Aku Sayang Ikan, Aku Merawat Ikan
Seno sangat menyayangi ikan cupang barunya. Karena belum tahu cara merawatnya, ia menaruh ikan itu di toples dan menutupnya rapat. Pagi harinya ikan itu diam. Ibunya memeluk Seno dan menjelaskan bahwa ikan perlu udara. Seno pun belajar merawat ikan dengan benar dan bertanggung jawab.
Keluarga Pak Bima menyukai ikan. Di rumah mereka ada akuarium tempat ikan-ikan berenang ke sana dan ke sini. Setiap hari ikan diberi makan, airnya bersih, dan udara masuk sehingga ikan hidup sehat.
Suatu hari Seno melihat pedagang ikan cupang. Ada yang berwarna merah, ada yang berwarna biru. Seno ingin sekali memeliharanya. “Ayah, bolehkah aku punya ikan?” tanyanya. Ayah tersenyum dan membelikannya seekor ikan cupang.
Seno membawa ikan itu ke kamarnya dan menaruhnya di dalam toples. “Halo, Ikan Cupang. Aku sayang kamu,” katanya. Malam harinya, karena takut ada kucing, Seno menutup toples itu rapat-rapat sebelum tidur.
Pagi harinya Seno bangun dan melihat toplesnya. Ikan cupang itu diam. Seno sedih.
Ibu datang memeluk Seno. “Ikan perlu udara,” kata Ibu dengan lembut. “Toples jangan ditutup rapat. Ikan perlu dirawat dengan benar.”
Seno pun belajar lagi. Ikan memerlukan air bersih, udara, dan tempat yang cukup. Bersama ayah dan ibunya, Seno menyiapkan wadah baru yang lebih besar dan terbuka. Kini ia memberi makan secukupnya, memeriksa kejernihan air, dan bertanya kepada ayahnya bila ragu — karena menyayangi berarti bertanggung jawab.