Bumi bangun kehausan dan membuka keran, tetapi air tidak mengalir. Bersama Sari dan Profesor Pintar, ia menjelajahi perjalanan air — dari awan, hujan, sungai, hingga air bawah tanah dan kembali ke keran. Bumi belajar bahwa air sangat berharga, lalu berjanji melakukan satu aksi hemat air.
Pagi itu Bumi bangun kehausan. Ia pergi ke dapur dan membuka keran, tetapi tidak ada air yang mengalir. Sari datang dan berkata, “Mari kita tanya Profesor Pintar dari mana asalnya air.”
Profesor Pintar, burung hantu yang ramah, mengajak mereka menelusuri perjalanan air. Mereka singgah di awan, mengikuti tetesan hujan, menyusuri sungai, lalu turun ke air bawah tanah hingga akhirnya kembali ke keran di rumah. Di setiap perhentian, mereka bertemu penolong — tetesan air, ikan, dan tumbuhan — yang mengajarkan satu hal baru.
Sepanjang perjalanan, anak diajak ikut serta: menarik tetesan dari awan, menghitung ikan di sungai, menyentuh akar yang sedang minum, dan menyusun tiga wujud air. Anak juga diajak mengingat kembali urutan siklus air dengan menyusun empat kartu secara berurutan.
Akhirnya keran menyala kembali. Bumi menyadari bahwa air sangat berharga. Ia memilih satu janji hemat air, lalu mengajak anak yang membaca untuk berjanji juga.
Buku ini merupakan buku pertama dalam seri Sahabat Bumi Kecil. Selain jalur cerita untuk anak, buku ini menyediakan jalur guru berisi tujuan pembelajaran, persiapan, langkah kegiatan, ekstensi, dan asesmen.